Harga Minyak Turun Seiring Meningkatnya Kekhawatiran Gejolak di Timur Tengah

 



Harga minyak melemah pada hari Selasa setelah mengalami reli lebih dari 4% di sesi sebelumnya, karena para trader berhati-hati karena mereka mencermati potensi gangguan pasokan di tengah bentrokan militer antara Israel dan kelompok Hamas.

Harga minyak mentah Brent turun 56 sen, atau 0,6%, menjadi US$ 87,59 per barel pada 0630 GMT. Sementara harga minyak West Texas Intermediate AS turun 56 sen, atau 0,6%, menjadi US$ 85,82 per barel.

Kedua harga acuan tersebut melonjak lebih dari US$ 3,50 pada hari Senin karena konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat menyebar ke luar Gaza dan memasuki wilayah yang kaya minyak.

Hamas melancarkan serangan militer terbesar terhadap Israel dalam beberapa dekade pada hari Sabtu, sementara pertempuran berlanjut hingga malam hari pada hari Senin ketika Israel membalas dengan gelombang serangan udara di Gaza.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Akan Untungkan Emiten Tambang, Siapa Saja?

“Masih banyak ketidakpastian di pasar menyusul serangan di Israel pada akhir pekan,” kata analis ING pada hari Selasa,.

"Jika laporan mengenai keterlibatan Iran ternyata benar, hal ini akan memberikan dorongan lain pada harga minyak, karena kita memperkirakan AS akan menerapkan sanksi minyak terhadap Iran dengan lebih ketat," tambah analis ING.

Sebelumnya juru bicara Gedung Putih menyebut Iran terlibat meskipun Amerika Serikat tidak memiliki informasi intelijen atau bukti yang menunjukkan keterlibatan langsung Iran dalam serangan tersebut.

“Jika AS menemukan bukti yang secara langsung melibatkan Iran, maka pengurangan ekspor minyak Iran akan menjadi kenyataan,” kata Vivek Dhar, analis energi di CBA.

“Kami tetap percaya bahwa harga minyak Brent pada akhirnya akan stabil di kisaran US$ 90-US$ 100/bbl pada kuartal IV 2023,” kata Dhar.


Sumber: kontan.co.id

Komentar